Powered By Blogger

kisah inspiratif widya

Tampilkan postingan dengan label kisah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kisah. Tampilkan semua postingan

Senin, 10 Mei 2010

Anak Hilang

Kali ini, inspirasi cerita saya berasal dari almarhumah ibu saya. Waktu saya kecil, ibu yang biasa kadang saya panggil "emak" (kalau lagi baik) dan "mami" (kalau lagi sebel) ini memang kerap menceritakan beragam kisah masa lalunya. Salah satu kisah yang sangat menyentuh dan sering saya ingat sampai sekarang adalah cerita 2 anak hilang. Mengapa dua? Karena memang ada dua orang anak yang tidak jelas asal usulnya, tetapi sangat dikenal ibu saya dan tidak pernah dilupakannya sampai akhir hayatnya. Mereka adalah:

1. Man Benjol

Waktu aku naik kelas 4 SD, sekitar tahun 1988 aku dibawa ibu mudik ke kampungnya. Di daerah Simpang Martapura, Kabupaten Ogan Komering Ulu, Sumatera Selatan. Entah apa yang ada dikepala ibu saat itu, tiba-tiba beliau nekad mengajak aku untuk menjalani petualangan seru menuju kampungnya. Mungkin beliau rindu dengan keluarganya.

Dari Palembang, dengan koper besar kami naik kereta api. Ayah hanya mengantar sampai stasiun. Sebuah perjalanan panjang yang melelahkan. Tibalah kami ke rumah adik ibu, Abuk (Paman) Zainal Abidin di asrama polisi Baturaja. Kami datang disambut, Bu Gus (istri abuk) yang baru habis sholat zuhur. Ibu Gus mencium aku dengan gemas, dan akhirnya kami pun dapat beristirahat. Disini kami menginap beberapa hari. Aku bertemu saudara sepupuku, ayuk Irma, kak Hero dan Kak Rahmat. Senangnya. Dengan ayuk Irma aku dibawa jalan-jalan jajan tekwan, kue dan lain-lain. Dengan kak Hero aku dibelikan banyak permen, dan kak Rahmat mengajari aku main pianika.

Setelah tinggal menyenangkan di rumah paman di Baturaja itu, kami kemudian naik angkutan lagi menuju kampung ibu yang sebenarnya. Tetapi eit, kami tidak buru-buru sampai di rumah Jong (kakek). Tetapi kami mampir dulu ke rumah paman yang satu lagi, yakni adik bungsu Ibu yang sekandung, mamang Ham di Selabung. Wah, disini aku akhirnya bertemu bibi kami yang lincah bernama Bik Upik, adik sepupuku Ginanjar yang masih balita dan adik sepupu yang masih bayi bernama Franky.

Menginap di rumah Mang Ham hanya semalam, karena kemudian kami langsung menuju rumah kakek yang tidak begitu jauh. Tinggal di rumah kakek, aku bertemu banyak sepupu kecil yang lain. Ada Fatma, ada Rizal, dsb. Ada juga adik-adik tiri ibu yang juga masih kecil-kecil, seperti bik Tini, mang Nas dan mang Budi. Bersama para sepupu dan paman bibi ini, kami selalu bermain. Kadang kami main ke sungai Taro, yang berada di dekat hutan dengan di kawal paman yang agak besar, mang Ujer. Saat itu aku suka sekali kampung ibuku. Suasana yang asri dan kekerabatannya pun semakin mengental.

Kami sering jalan-jalan di sepanjang kampung, menikmati suasana yang begitu menyenangkan itu. Tetapi kadang kami juga agak takut dan tiba-tiba berlari menjauh, jika kami melihat sosok ini: Man Benjol.

Man Benjol merupakan sosok laki-laki tua yang nampak sekali mengalami keterbelakangan mental. Badannya bungkuk, kepalanya botak. Dia memakai baju lusuh dan berjalan disepanjang kampung tanpa menegur siapa pun. Berjalan begitu cepat, dan kadang mengeluarkan gumaman yang lumayan keras. Seakan dia sibuk dengan pikirannya sendiri. Dan jika dia lewat, warga kampung disana juga tidak memperdulikannya. Tetapi bagi aku yang baru menginjakkan kaki disana, sosok itu menjadi nampak begitu "luar biasa". Meskipun aku sedih melihat kondisinya, tetapi aku tidak berani mendekat. Takut. Begitu takutnya aku sampai aku menjauh, dan jika aku sudah ketakutan begitu, para sepupu dan adik-adik ibu yang kecil-kecil itu pun ikut-ikutan latah menjauh.

Saat kami akan kembali ke Palembang, tiba saatnya kami berpamitan dengan seluruh keluarga. Namanya juga di desa, maka hampir semua warga kampung adalah saudara semua. Sepanjang jalan tanganku capek dan hidungku lecet menciumi tangan banyak orang. Hikmahnya, kantung jadi tebal karena ada-ada saja keluarga jauh ini yang menyisipkan lembaran uang kertas buat jajan. lumayan.

Tetapi ketika sibuk salam-salaman ini, tiba-tiba lewat sosok "luar biasa" itu lagi. Man Benjol! Karena sudah mau pulang, maka aku "puas-puasin" melihat sosok itu lagi. Ya, minimal aku bisa melihat dan mendoakan orang itu. Meski aku tetap tidak bisa menghapus rasa takut. Dan untuk yang terakhir ini, aku ingin menunjukkan kepada ibu tentang sosok yang menyedihkan itu karena...

"Man! Man Benjol!"

Aku terpana. Tiba-tiba ibuku begitu bersemangat mengejar Man Benjol yang nampak berjalan begitu cepat dan semakin menjauh itu.

"Man, apa kabar? Man ingat dengan Mai? Ini Mai, Mai sekarang di Palembang. Man sehat? Ya Allah Man, kamu sudah semakin tua sekarang. Ini ada uang dari Mai buat Man. Terima kasih dulu sering nolong Mai ya Man..." kata ibuku.

Aku melihat ibuku membuka tas hitamnya. Mengeluarkan uang kertas dan menggumpalkannya digenggaman tangan Man Benjol. Si Man Benjol mengangguk-angguk, seperti orang yang agak kurang sadar. Sambil terus berjalan, dia memandangi lembarang uang kertas dari ibuku tersebut. Sementara ibuku, terus memandanginya dengan tersenyum yang sangat ikhlas. Lho, ada hubungan apa ibuku dengan laki-laki paruh baya yang agak kurang waras itu?

Di kemudian hari aku tahu, bahwa ibu ternyata punya kenangan baik dengan sosok Man Benjol. Ibu bercerita, waktu dia kecil, tiba-tiba ditemukan anak laki-laki kecil tersesat dikampungnya. Tidak ada yang tahu asal muasal anak itu dengan jelas. Dan malangnya, anak tersebut pun tidak bisa bicara dengan jelas pula. Dia hanya anak hilang. Ada yang bilang, dia terbawa sebuah truk dari luar kota. Orang melihat anak itu pucat kumal. Sulit bicara dan nampak putus asa. Bertahun-tahun kemudian, orang mengenalnya sebagai Man Benjol. Warga kampung yang hidup atas belas kasihan warga lain. Entah siapa yang memberikan nama tersebut. Mungkin karena dia pernah menyebutkan kata "Man" dan orang melihat jidatnya yang jenong itu, hingga menambahkan kata-kata "benjol".

Menurut ibu, kisah hidup Man selanjutnya juga tidak dapat dikatakan indah. Sejak ditemukan sebagai anak hilang, dia selamanya tetap "hilang". Man selalu ada dikehidupan warga kampung itu, tetapi kehadirannya tidak begitu terasa. Dia seperti mahluk yang berkeliaran disepanjang jalan. Lepas. Bebas. Tanpa ada yang peduli siapa dia sebenarnya. Man Benjol tidak punya saudara disana, apalagi rumah. Dia tidur dibawah rumah orang, di pinggir jalan, di tempat-tempat yang tak layak dihuni manusia. Man makan dari orang-orang yang membutuhkan tenaganya. Man Benjol mungkin tidak bisa diajak bicara, berhitung, apalagi membaca. Tetapi tenaganya kuat bagai kuda. Dia sanggup memanggul air dari sungai ke rumah-rumah warga. Man kuat memikul kayu, hasil tani dan sebagainya. Dan untuk itu, orang hanya memberinya makanan, pakaian, atau sedikit uang.

Dan orang yang sering menggunakan jasa Man Benjol itu termasuk ibuku. Ibu waktu itu adalah anak sulung dari 5 bersaudara. Ibunya meninggal saat dia kecil, dan bersama sang ayah dia terpaksa harus memelihara adik-adik kecilnya. Bukan suatu yang mudah bagi seorang gadis muda belia. Apalagi dikemudian hari sang ayah kerap menikah karena alasan berpisah, atau sang istri baru itu meninggal pula. Ibu pun mendapat tambahan adik-adik tiri.

Ibuku sering meminta jasa Man Benjol untuk mengangkut air. Dan untuk ibu, Man selalu siap memanggul air. Sebab ibu pasti akan memberikannya makan. Kata ibu, Man sangat semangat makan. Karena ibu tidak pelit dalam urusan membagi jatah makan, maka Man selalu rajin ke rumah kakek untuk minta disuruh ibu. Setelah selesai bekerja, Man akan duduk bersila di dapur menantikan sajian makanan lengkap dari ibuku. Kalau ada keluarga lain juga, maka mereka ikut makan bersama Man Benjol itu. Tidak ada perbedaan. Man dianggap bagian dari keluarga. Meski Man tidak pernah mau diminta tinggal di rumah. Man lebih suka tidur dijalan sambil memandangi langit. Man sejuk dalam kesendiriannya. Mungkin dia merasa melihat wajah orangtua dan keluarganya di atas sana.

Selanjutnya ibuku menikah dengan seorang tentara (ayahku) dan pindah ke kota Palembang. Setelah ibu pindah, Man konon tetap sering membantu keluarga kakek untuk membantu-bantu pekerjaan. Dan juga membantu warga kampung lainnya. Dan ketika bertahun-tahun kemudian ibu juga mendengar kabar, bahwa Man Benjol meninggal dunia. Dia sakit dan sudah terlalu tua.

"Sudah meninggal Man..." aku ingat ibuku mengatakan itu sambil menundukkan wajah.

"Itulah nasib anak yang hilang nak. Makanya, ibu tidak pernah mengizinkan kalian pergi main jauh-jauh. Nanti kalian hilang. Seperti si Man itu. Kasihan sekali hidupnya. Gara-gara terbawa truk, sampai tersesat hidupnya. Tak ada yang bisa mengantarkannya pulang, karena dia pun tidak bisa bicara dengan jelas. Daya pikirnya juga lemah. Tetapi Man itu orang yang rajin bekerja. Orang yang selalu menolong orang lain. Dia selalu menolong ibu mengangkut air. Dan dia selalu suka membantu ibu, apalagi karena ibu selalu memberinya makan. Entah bagaimana perasaan orangtua si Man itu waktu tahu anaknya hilang. Apalagi jika tahu nasib anaknya sampai terlantar begitu. Mungkin mereka telah mencari kesana-kemari, dan mungkin mereka menyesal sepanjang hidupnya"

aku melihat ibu mengusap air matanya,"Orang tua yang kehilangan anaknya, pasti juga kehilangan jiwa raganya. Dan itu lebih buruk daripada mati"

Anak yang hilang adalah anak yang tidak pernah kembali. Tetapi anak hilang adalah mungkin juga adalah anak yang datang, tetapi kemudian pergi. Meninggalkan kesan berarti bagi yang ditinggali, karena dia tidak pernah terlihat lagi. Dan anak hilang kedua yang dikenang ibu adalah:

2. Kakak yang cantik

Kisah tentang kakak yang cantik ini baru terungkap ketika aku menjelang remaja. Dulu waktu kecil, memang ibu terkadang bercerita tetapi tidak begitu lengkap. Aku pun lupa siapa nama kakak perempuan yang cantik ini. Yang kuingat, ketika aku besar, ibu mengungkap suatu kisah yang membuat aku meneteskan air mata. Ini tentang kasih sayang dan persaudaraan.

Menurut ibu, suatu hari tiba-tiba hadir juga anak hilang di kampungnya. Berbeda dengan Man Benjol, anak perempuan ini justru cantik dan cerdas. Dia lari dari kampungnya dengan alasan yang tidak jelas. Nampaknya dia sangat membenci keluarganya. Entah apa yang terjadi, dan bagaimana ceritanya, tiba-tiba dia kemudian diasuh kakek dan nenek.

"Kakek dan nenek kasihan melihatnya. Dia anak perempuan yang masih belia. Sejak itu dia tinggal di rumah, untuk menemani ibu bermain. Dia kakak yang cantik dan menyenangkan. Sebab itu kakek dan nenek sangat sayang kepadanya, seperti anak sendiri. Apalagi dia rajin, sering membantu pekerjaan rumah tangga"

Tetapi kebersamaan dengan kakak yang cantik itu pun harus hilang. Tiba-tiba ada banyak laki-laki datang ke rumah kakek, yang mengaku sebagai keluarganya. Mereka meminta si kakak ini kembali lagi. Ternyata si kakak berasal dari kampung yang cukup jauh. Entah bagaimana ceritanya ada anak perempuan belia yang nekad bepergian begitu jauhnya. Meski berat, akhirnya kakek dan nenek mengizinkan para lelaki tersebut untuk menjemput si kakak. Hanya, si kakak ini anak yang cerdas dan lincah sekali. Ketika akan dibawa pulang, dia pasti bisa tiba-tiba menghilang.

Kata ibu, berkali-kali utusan penjemput dari pihak keluarganya itu datang, berkali-kali pula si kakak ini menghilang. Lenyap bagaikan ditelan bumi. Dia bisa hilang berhari-hari, tetapi kemudian kembali lagi ke rumah ibu. Tetapi tiap ditanya kemana dia menghilang, si kakak ini hanya diam.

"Dia begitu cepat berlari diatara semak belukar dan hutan. Dia begitu cepat menghilang. Lama sekali. Dan ketika utusan keluarganya itu pergi, dia tiba-tiba langsung kembali. Entah apa yang dilakukannya. Dia begitu misterius"

Tetapi kondisi datang dan pergi yang dilakukan si kakak itu pun berakhir. Bukan karena dia lupa menghilang, atau orang menemukan tempat persembunyiannya. Tetapi karena rasa sayangnya kepada ibuku, adik angkatnya.

Suatu hari, utusan keluarganya itu kembali datang menjemput. Saat itu ibu dan si kakak ini sedang mengambil air di sungai. Saat itu nenek sangat membutuhkan air saat itu.

"Kakak sudah tahu. Dia tahu ada yang akan menjemputnya. Sebab itu dia sudah siap berlari ke hutan. Ibu waktu itu masih sangat kecil, ibu tidak begitu kuat mengangkat air. Tetapi karena si kakak ini akan bersembunyi, maka ibu memaksakan untuk membawa tempat air ini,"

Tampaknya si kakak ini tidak tega ketika melihat ibu nampak begitu berat membawa air. Tiba-tiba si kakak ini kembali dan langsung mengangkut air yang tadi dibawa ibu itu.

"Dia bilang, berat ini dek. Kasihan kau dek!"

Dan air itu terus dibawanya sampai ke rumah. Setelah meletakkan air di rumah, tentu si kakak tidak mungkin lagi dapat berlari. Tetapi dia tidak menangis. Dia hanya diam saat utusan keluarganya itu akan membawanya pulang. Kakek dan nenek memberinya uang, anting emas dan kain sebagai kenangan. Dengan pesan, agar suatu saat nanti dia dapat berkunjung kembali ke rumah orang tua angkatnya.

"Saat dia dibawa pergi, ibu cuma bisa menangis. Tetapi kakak itu tetap tersenyum kepada ibu. Dia seperti tidak pernah menyesal untuk melakukan pengorbanan itu. Meski ibu tahu, dia sangat tidak ingin kembali ke rumahnya. Entah apa yang terjadi disana. Si kakak nampak begitu sedih, benci dan takut untuk pulang ke rumahnya.Disitu ibu tahu kalau dia benar-benar sayang kepada ibu. Adik angkatnya..."

Sejak itu ibu tidak pernah melihat kakak angkatnya yang cantik itu lagi. Dia tidak pernah kembali. Dia datang dan pergi, kemudian benar-benar tidak pernah kembali. Kisah ini mengajarkan aku, betapa rasa sayang itu jumlahnya lebih. Kita dapat melakukan apa pun untuk orang yang kita sayangi. Meski akhirnya itu hanya akan menjadi suatu pengorbanan dalam hidup seseorang yang cuma bisa dikenang. (widya)

Rabu, 28 April 2010

Pengacara dan Client-nya

Suatu hari saya menemui seorang anggota DPRD Kota Palembang sekitar tahun 2007. Waktu itu saya masih menjadi wartawan di koran daerah. Dia seorang pria yang duduk di Komisi I kala itu. Dan saat itu saya berniat mengungkap profil beliau dalam rubrik 'Sosok Anggota Dewan'. Jika pada awalnya saya berniat menulis tentang aktivitasnya sebagai anggota dewan, tiba-tiba keinginan itu berubah ketika saya tahu jika anggota dewan ini merupakan seorang pengacara.

"Punya kasus unik Pak saat menangani klien?" tanya saya waktu itu

Mendadak bapak anggota dewan ini merenung sebentar, tapi kemudian dia langsung berkata dengan penuh semangat,"Ya, ada. Saya tidak pernah lupa saat menangani kasus ini"

Anggota dewan ini berkisah, pada awalnya dia memang seorang pengacara. Sebelum akhirnya terjun ke dunia politik dan kemudian akhirnya menjadi anggota dewan. Menurut bapak ini, dia memang banyak menangani kasus-kasus menarik. Tetapi ada satu kasus yang tidak pernah dilupakannya begitu saja karena pasti membuatnya terharu jika mengenangnya.

Pada awal karir sebagai pengacara muda, anggota dewan ini diminta untuk menangani kasus seorang warga masyarakat yang tinggal di salah satu kabupaten. Tersangka dituduh mengedarkan uang palsu di masyarakat.

"Padahal sebenarnya, si tersangka ini sebenarnya bukan pengedar uang palsu. Dia hanya warga biasa yang sedang berbelanja di pasar. Setelah belanja kan dia mendapatkan uang kembalian. Dia tidak tahu jika uang tersebut palsu, maka dibelanjakannya lagi ke tempat lain. Karena pedagang yang menerima uang palsu ini mengadukan ke polisi, maka warga tersebut diciduk," kata anggota dewan tersebut.

Dan yang lebih mengharukan lagi, warga yang kemudian menjadi tersangka uang palsu ini ternyata merupakan petani penggarap yang miskin. Jangan kan membayar jasa pengacara, buat makan saja susah. Hasilnya pengacaranya ini memberikan jasa dengan suka rela.

"Jangan kan dibayar, dik. Malah kita tidak tega melihatnya kelaparan di penjara. Jadi sering saya belikan makanan dan rokok. Tidak tega saya melihatnya"

Meski dalam membela kliennya tersebut si pengacara ini gagal, tetapi hubungan baik dengan sang klien ternyata tidak putus disitu saja. Usai menjalani masa tahanan, si klien pun kembali bekerja sebagai petani seperti biasa.

"Tetapi beberapa bulan kemudian, tiba-tiba rumah saya di Palembang kedatangan orang dari jauh. Katanya warga dusun. Dia membawa sebuah karung, dan jelas ini agak sedikit membingungkan saya. Tetapi setelah orang tersebut mencium tangan saya, saya baru tahu kalau dia adalah bekas klien saya. Itu, klien saya yang dituduh mengedarkan uang palsu,"

Bekas klien si pengacara ini mengaku, dia sudah berkeliling mencari alamat pengacara yang pernah membelanya tersebut. Bisa dibayangkan, jika seorang warga dusun yang lugu dengan menjunjung karung diatas kepala berkeliling kota mencari alamat bekas pengacaranya. Tentu itu suatu hal yang dapat membuat si pengacara dan keluarganya terharu luar biasa.

Menurut warga dusun ini, dia tidak dapat melupakan jasa si pengacara yang telah membelanya dengan sukarela itu. Apalagi dia ingat, justru si pengacara inilah yang kadang memberikannya nasi dan rokok saat di tahanan. Atas jasa baik pengacara tersebut, maka si petani bertekad akan mencari alamat pengacaranya tersebut demi mengucapkan rasa terima kasih.

"Saya hampir menangis pas dia membuka karung yang dia bawa tersebut. Ada singkong, sayur, kelapa, terung, sampai petai. Mungkin bagi orang lain itu tidak berarti. Tetapi bagi warga petani dusun yang miskin seperti dia, mungkin itu sangat berharga. Sehingga jauh-jauh dia membawanya ke kota, demi saya, pengacara yang pernah membela dia. Saya tidak dapat melupakan kejadian itu. Kisah yang sangat mengharukan sepanjang karir saya sebagai pengacara.."

Sungguh, saya pun tidak dapat menahan haru mendengar cerita dari anggota dewan tersebut. Mungkin selama ini di televisi kita hanya kerap menyaksikan pengacara yang mendampingi para koruptor kelas kakap, para artis papan atas yang ribut mau cerai atau berseteru dengan artis lainnya. Tetapi di suatu tempat yang lain, ternyata masih ada pengacara-pengacara yang bersedia membela kliennya yang miskin dan papa atas dasar keikhlasan. Tidak memikirkan uang, bahkan justru mereka yang rela menggelontorkan uang demi membantu kliennya. Luar biasa!

Selasa, 27 April 2010

Misteri Jodoh

Hmm...Jodoh. Kayaknya lumayan seru ya ngobrolin tema ini. Terutama bagi mereka yang belum juga mendapatkan pasangan hidup, atau mereka yang pernah punya pasangan, tetapi ditengah jalan memiliki cobaan untuk kehilangan pasangan. seperti saya? (ehem!)

Sebenarnya begini. Dari dulu saya ini sudah jadi "ladang" curahan hati bagi teman-teman saya. Ada banyak hal yang mereka kisahkan. Tetapi jika dihitung-hitung, persentase tertinggi yang menjadi curahan itu justru masalah: Jodoh! Entah mengapa mereka memilih saya untuk mengungkap dan membahas permasalahan ini. Apakah mungkin karena saya terlihat seperti banyak waktu untuk mendengar cerita, atau mungkin karena saya memiliki kesamaan karena sekarang sudah mengusung kembali status "single"? Entahlah.

Tapi teman-teman ini, bukan hanya pria atau wanita, yang mencari saya biasanya memang bercerita soal sulitnya menemukan jodoh ini. Mereka bicara soal usia yang kian bertambah, sulitnya menemukan pasangan yang sesuai kriteria atau masalah sakit hati karena terus bertemu dengan orang-orang yang bukan jodoh terbaik mereka. Walah! Sebenarnya permasalahan kami sama. Sama-sama masih mengencangkan urat leher untuk urusan menyuarakan permintaan kepada Allah agar diberikan yang terbaik dari yang terbaik. Tiada henti meminta, tiada henti berusaha. Meski kadang-kadang juga timbul pertanyaan. Apa iya kita harus mencari si jodoh ini? Kalau memang jodoh itu mesti dicari, mengapa begitu banyak orang menemukan jodohnya secara tidak sengaja apalagi terduga?

Soal jodoh tak terduga ini, saya punya cerita. Saya sering merekam kisah tentang orang-orang disekeliling saya yang secara tidak sengaja menemukan pasangan hidup mereka. saya punya kakak sepupu bernama Hepi yang tinggal di pelosok sumatera selatan, usianya sebagai wanita sudah cukup matang. Apalagi untuk kategori pedesaan. Sebagai anak perempuan tertua, dimana sang ibu sudah meninggal dunia saat dia kecil, kakak saya ini terpaksa menggantikan posisi ibu bagi adik-adiknya. Setelah adik-adiknya itu remaja, usianya tentu sudah tidak lagi muda. Tentu susah mencarikan jodoh baginya. Apalagi populasi warga desa plus daerah sekitarnya tentu juga tidak dapat dikatakan banyak untuk dapat memberikan pilihan beragam baginya.

Sehingga dapat dimaklumi, jika dari tahun ke tahun para keluarga kerap menunjukkan keprihatinan atas nasib jodohnya. Tetapi suatu hari, saat aku SMA, tiba-tiba keluargaku yang bermukim di Palembang kedatangan saudara jauh dari kerabat almarhum ayah di desa. Mereka datang dengan kalimat sakti mencengangkan, jika Ayuk (panggilan kakak perempuan bagi orang Palembang) Hepi akan segera menikah! wah, gimana ceritanya? Ternyata kakak kami ini menemukan jodohnya secara amat sangat tidak disengaja.

Suatu hari, ada seorang supir truk yang berhenti di depan rumah. Kebetulan, dia menanyakan alamat kepada kakak sepupu kami ini. Rupanya, dari pertemuan pertama ini keduanya menemukan chemistry...(hihihi). Alhasil, besoknya sang supir datang lagi. tapi kali ini bukan menanyakan alamat, karena alamat jodoh yang dicari sudah ketemu. saat pesta pernikahan Ayuk Hepi, kami para saudara sepupunya di Palembang menyempatkan datang. Saat ijab kabul, kami baru tahu kalau usia Ayuk Hepi jauh lebih tua dari suaminya. Dan yang lebih melegakan lagi, wajah suaminya ini ganteng pula! Sampai saat ini keduanya hidup bahagia di desa dengan anak-anak yang sudah beranjak remaja.

Lalu, ada juga cerita Ayuk Wati, tetangga sebelah rumah kami di Palembang. Dia juga merupakan anak tertua perempuan dalam keluarga. Karena ayahnya meninggal, sang ibulah yang kemudian menjadi tulung punggung keluarga. Ayuk Wati sebagai anak tertua bekerja keras jadi partner sejati sang ibu agar adik-adik mereka bisa makan dan sekolah. Jika kemudian adik-adiknya lebih dahulu menikah, Ayuk Wati tetap dalam kesendiriannya. Membantu ibunya membuat kue untuk jualan mereka. Padahal segenap cara sudah dilakukan keluarga mereka agar si Ayuk Wati ini ketemu jodohnya. Termasuk menemui orang "pintar" yang mensyaratkan agar dia rajin mandi kembang.

Soal kembang ini, saya juga sempat merinding. Dulu, tiap malam-malam tertentu saya ketakutan karena mencium wangi kembang. Saya pikir itu roh gentayangan karena ada tetangga yang baru meninggal dan dikuburkan. Tetapi keesokan paginya, ibu saya menemukan beraneka macam kembang di got belakang rumah kami yang menyatu dengan tetangga. Saat ibu menanyakan kepada tetangga kami tersebut, mereka membenarkan jika telah terjadi prosesi mandi kembang tengah malam. Entah apa karena itu kembang, atau karena memang jodohnya sudah datang. Beberapa tahun kemudian, tepatnya setelah setahun pernikahan saya (yang kini telah gagal)Ayuk Wati pun segera menikah. Jodohnya? Lagi-lagi orang yang secara tidak sengaja bertamu ke rumahnya. Kini mereka sudah mempunyai seorang putri yang lucu dan cantik.

Saya juga menemukan kisah unik dari perjodohan yang diawali dari dunia maya. Begitu banyak teman-teman saya yang bertemu jodohnya gara-gara facebook, frienster atau chatting di yahoomassenger. Dan pernikahan mereka nampak berjalan baik-baik saja sampai sekarang, bahkan sudah pada punya anak semua.

Jika itu tadi merupakan "jodoh teknlogi", maka saya juga punya teman kecil bernama Yani yang memanfaatkan media komunikasi zaman dulu, alias sahabat pena. Bertahun-tahun dia menyurati seorang pria dari luar kota bahkan sejak masih SMP. Berlanjut ke SMA, dan kemudian si pria tiba-tiba masuk menjadi prajurit TNI AD. Beberapa tahun kemudian, kedua anak manusia yang belum pernah berjumpa dan hanya saling lihat via foto ini, akhirnya bertemu. Mereka pun akhirnya memutuskan menikah. Duh, romantisnya!

Kalau tadi bicara soal menemukan jodoh yang tidak disengaja, saya juga memiliki kisah teman-teman yang mengusahakan jodoh mereka. Saya bertemu kembali dengan beberapa teman-teman masa SMP, SMA atau kuliah di dunia maya, mereka ternyata menikah dengan pacar mereka sejak SMP,SMA atau kuliah itu. Ada yang pacaran 9 tahun, ada yang 5 tahun, dsb. Artinya mereka memang berjuang untuk itu. Saya bahkan menjadi salah satu saksi betapa membaranya kisah mereka di masa lalu. Setia mencintai pacarnya meski mereka harus berpisah kota karena urusan kerja atau pendidikan. Dan saya juga yang kini mengetahui bahwa perjuangan mereka itu memang tidak sia-sia.

Tetapi misteri jodoh memang bak misteri jagad raya. Hanya Allah yang mengetahuinya. Kita benar-benar tidak tahu siapa jodoh kita. Jadi tidak perlu ditanya, apalagi direkayasa. Ikuti saja alurnya. Karena dia begitu rahasia dan mungkin tak terduga. Mungkin jalurnya harus lurus, atau justru berliku hingga sampai kehadapanmu.

Saya juga punya teman SMP bernama Utiek. Dia anak pandai di sekolah. Sebab itu, dia dikirim cerdas cermat bersama teman sekolah yang lain, termasuk adik kelas kami yang tak kalah cerdas bernama Yudha. Pada masa SMA, saya satu sekolah dengan Yudha ini sementara Utiek tidak. Saat saya kuliah, saya juga mendengar selentingan kabar jika keduanya justru menjalin hubungan dengan orang lain. Tetapi alangkah terkejutnya saya dikemudian hari, ketika kemudian kedua peserta cerdas cermat ini akhirnya menikah. Ternyata, adik si Utiek, si Euis yang menikah lebih dulu dari kakaknya ini mempertemukan kembali pasangan cerdas cermat ini. Setelah keduanya dewasa dan memiliki karir bagus tentunya. Dan jika kemarin mereka bersanding untuk ikut cerdas cermat di sebuah statiun televisi, maka akhirnya mereka bersanding dalam arti sebenarnya di depan penghulu.

Jadi, bersiaplah menanti jodoh anda. Mungkin dia sebenarnya adalah teman anda, tetangga atau mungkin justru musuh kita. Siapa tahu?

Contoh PNS Pintar

Ismadjaya Toengkagie

Keturunan Raja Ternate

Ramah dan bersahaja. Demikian sosok Kepala Bagian Program dan Pelaporan pada Sekretariat Bappebti, Ismadjaya Toengkagie. Lahir di Kotamobagu, Sulawesi Utara, 1 Januari 1954. Lho, kok marga Toengkagie tapi nama depannya Ismadjaya? Menurut suami dari Siti Rosedahliana ini, nama Ismadjaya sebenarnya nama seorang tamu yang sering menginap di rumah penginapan milik keluarganya.
“Rumah keluarga itu termasuk yang terbesar di daerah kami waktu itu. Karena daerah disana dulu belum ada semacam penginapan, maka diminta Bupati waktu untuk dijadikan penginapan. Jadi sering banyak orang dari luar datang dan menginap disana. Salah satunya ada Pak Ismadjaya, seorang saudagar dari Sumatra. Saat saya lahir, bapak tersebut minta kepada ayah agar menggunakan namanya untuk saya,” kisah pengidola Soemitro Djojohadikusomo dan Emil Salim.
Tetapi bukan itu saja yang membuat sosok pria berpostur tinggi 173 cm dan berat 68 kg ini tampak agak “berbeda” bagi keturunan Manado lainnya. Wajahnya justru mirip orang Timur Tengah. Ternyata, alumnus Magister of Science Jurusan Administrasi Publik pada FISIP Universitas Indonesia tahun 2005 ini mewarisi keturunan Ternate dari ibunya. Kakek Ismadjaya ternyata merupakan anak Raja Muda Ternate yang menyebarkan agama Islam di wilayah Bolamongondo. Sang kakek ini kemudian menikah dengan gadis Bolamongondo dan melahirkan seorang putri yaitu ibu dari Ismadjaya.
Semasa kecil, penyantap makanan pedas ini ternyata merupakan “bintang” di tanah kelahirannya. Keahliannya bernyanyi sejak usia 5 tahun menarik perhatian Bupatinya waktu itu. Maka didirikan band bocah yang pemain musiknya anak-anak SMA, sementara Ismadjaya yang baru masuk SD didaulat jadi vocalisnya. Meski kerap terpaksa menyanyi di atas meja karena belum bisa menjangkau mikropon, tetapi anak kedua dari 8 bersaudara ini sudah fasih melantunkan tembang-tembang berbahasa Inggris dan Spanyol. Keahlian inilah yang kemudian menurun kepada anak bungsunya, Farah Cantika yang sempat masuk 5 besar AFI Junior 2008.
Meski memiliki kemampuan seni, justru penggemar tenis meja dan jogging ini tidak berniat jadi seniman. Apalagi meneruskan profesi sang ayah yang pengusaha itu. alumnus Fakultas Ekonomi Universitas Sam Ratulangi tahun 1981 ini malah terbang ke Jakarta untuk jadi PNS Depdag. Meski dengan gaji PNS yang tak seberapa, Ismadjaya pun tak menyerah. Bersama temannya dia nekad mencari uang tambahan halal dengan menjadi dosen mata kuliah sore. Suatu profesi yang juga masih dijalaninya hingga saat ini. Bahkan kini dia telah mengajar di berbagai universitas swasta ternama di Jakarta.
“Menjadi dosen bagi seorang PNS itu tidak ada larangan. Justru saya mendapatkan dukungan. Bahkan saya menjadi lebih banyak wawasan dan terbiasa tampil dihadapan publik. Saya tidak akan melepaskan dunia pendidikan ini. Bahkan jika saya sudah pensiun nanti, saya ingin tetap mengajar sebagai dosen. Ini pekerjaan yang saya cintai,” terang ayah dari Rizky Maulana Toengkagie (22), Reysa Rahmat Toengkagie (18) dan Farah Cantika (8). (widya burlian al-kalabi/Bulletin Berjangka BAPPPEBTI April 2010)




artikel diatas merupakan tulisan saya untuk rubrik KIPRAH di Bulletin BERJANGKA Edisi April 2010, milik Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (BAPPEBTI), Departemen Perdagangan.

sebenarnya kisah inspiratif saya kali ini, bukan membahas siapa Ismadjaya Toengkagie. Tetapi membahas betapa seorang PNS ini pintar menggunakan otaknya untuk mencari tambahan uang bagi penghidupannya. Setelah menyelesaikan pendidikannya di Fakultas Ekonomi Universitas Sam Ratulangi, Manado pada tahun 1981, Ismadjaya bersama kelima rekannya nekad mengirimkan berkas ke Departemen Perdagangan RI di Jakarta, demi melamar kerja sebagai PNS disana. Saat menerima panggilan dan harus mengikuti tes di Istora Senayan, kelima pemuda Manado ini pun terbang ke Jakarta.

Pada awalnya mereka mengira, setelah lulus jadi PNS pada proses penempatan mereka akan dikembalikan ke kampung halaman. Tetapi ternyata, mereka "terpaksa" menjadi warga Jakarta. Hidup merantau dengan penghasilan sebagai PNS, ternyata tidak mudah bagi para pemuda ini. Dengan gaji Rp 25 ribu per bulan kala itu, tentu jelas tidak mudah bagi anak rantau. Apalagi saat itu, untuk bayar kost saja sudah Rp 50 ribu/bulan. Belum makan dan sebagainya. Sehingga dalam perjalanannya, ada dari rekan mereka yang mengundurkan diri dan memilih berkarir di lingkup swasta. Tetapi Ismadjaya tidak menyerah, bersama salah seorang rekannya dia putar otak bagaimana caranya mencari uang dengan cara halal.

Waktu itu, PNS masih dapat pulang kerja sekitar pukul 4 sore. Merasa banyak memiliki waktu luang, Ismadjaya dan rekannya punya ide untuk mencari uang dengan mengajar. Mereka ingin menjadi dosen mata kuliah sore! Maka disebarkan berbagai surat lamaran bekerja menjadi dosen di berbagai universitas swasta di Jakarta. Meski belum juga mendapat balasan, mereka tidak putus asa. Ternyata Allah pun memberikan rizki kepada dua pemuda kampung ini. STIE Rawamangun memanggil mereka!

Sejak itu, dimulailah kisah perjuangan dua anak muda pantang menyerah ini. Sepulang dari bekerja sebagai PNS, mereka belajar setengah mati agar saat mengajar di depan para mahasiswa mereka nanti mereka jauh lebih pintar. Demi usaha ini, mereka terpaksa harus banyak membaca dan belajar lagi. Jelas bukan pekerjaan yang mudah, apalagi mereka melakukannya setelah pulang lelah bekerja sebagai PNS, kemudian setelah belajar mereka pun harus mengajar lagi dari sore hingga malam.

Ternyata, buah dari kerja keras itu indah. Meski pada awalnya berat bagi mereka, dan nyaris menyerah, tetapi lama kelamaan profesi "sampingan" ini malah bikin jatuh cinta. Hasilnya, Ismadjaya serta rekannya ini tidak hanya mengajar di satu tempat, tetapi juga di tempat-tempat lain. Dan yang lebih mengagetkan mereka, pekerjaan sebagai dosen ini justru meningkatkan pundi-pundi keuangan keduanya. Pada masa itu, Ismadjaya mengaku sudah tidak pusing memikirkan gaji PNS yang tidak seberapa itu lagi. Dia bisa hidup jauh lebih baik, bergaya layaknya anak muda mapan Jakarta, bahkan mampu mencicil kredit mobil!

Selanjutnya, pekerjaan menjadi PNS dan dosen dijalani Ismadjaya dengan sukacita. Betapa tidak? selain mendatangkan rezeki halal, pekerjaan menjadi dosen membuatnya semakin bertambah wawasan dan berani tampil dimuka publik. Kondisi ini justru membantu kinerja Ismadjaya sebagai PNS, sehingga menambah daftar karir cemerlangnya. Bahkan, masa pensiunnya pun ditunda mengingat instansti di tempatnya bekerja masih membutuhkan kiprahnya sebagai birokrat handal. Di luar itu, citra Ismadjaya sebagai pendidik terus berjalan. Tidak hanya sekedar dosen, dia pun sudah beberapa kali membantu men-desaign kampus-kampus swasta di Jakarta untuk berdiri sempurna.
Ditangannya, tetap ada pengabdian sebagai pelayan negara. Tetapi juga pahlawan tanpa tanpa jasa.

Jadi, bagi seorang PNS, mengapa harus menjadi Gayus Tambunan jika hidup ini banyak pilihan? Memilih profesi sebagai PNS bukan berarti resmi pula menjadi koruptor. Menjadi PNS tentu tidak mudah, kita harus menyingkirkan banyak saingan dari seluruh wilayah Indonesia untuk menduduki posisi yang "aman" karena ada jaminan uang pensiun ini. Kita tidak bicara soal PNS yang tiba-tiba hadir di suatu instansi pemerintah atas dasar titipan neneknya atau karena kebetulan bapaknya baru jual sawah sehingga mampu menggelontorkan uang sogokan puluhan juta.

Tidak, kita bicara soal PNS yang berhati nurani. Soal PNS yang punya otak. Kita hanya bicara soal pelayan-pelayan terbaik yang dimiliki republik tercinta ini...(widya)